semua hanyalah timbunan kata-kata, yang alih-alih memperkaya pemahaman, malah menjebak makna dalam aksara

Saturday, December 02, 2006

Aku Terseret... Hanyut...

Kenapa aku terlahir menjadi asing dan sendiri? Aku merasa terbuang ke sebuah belahan dunia dimana aku hidup sendiri, sementara manusia lain hidup pada belahan lainnya. Apakah Tuhan ingin menunjukkan padaku bahwa asing dan sendiri bukanlah sebuah posisi yang menarik dan mengasyikkan? Ataukah Tuhan ingin memperlihatkan padaku bahwa hidup tanpa cermin hanyalah hidup yang penuh dengan keangkuhan dan kesia-siaan egoisme sempit? Bahwa hidup yang tanpa sahabat dan kekasih adalah hidup asing dan sunyi-sepi. Kalau memang kenyataannya demikian, maka alangkah membosankannya menjadi Tuhan. Ohhh..... Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu murka pada manusia yang ingkar padanya. Tuhan tak ingin ditinggalkan cerminnya, bukankah manusia merupakan cerminan bagi wajah Tuhan yang sesunguhnya? Bukankah tanpa kehadiran manusia maka Tuhan akan menjadi kesunyian dan tak punya mainan? Ohhh..... Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu berkasihsayang kepada manusia yang diciptakannya (tapi kenapa Tuhan seperti tidak menyayangiku, jangan-jangan aku bukan manusia) karena manusia adalah cemin bagi diriNya. Lalu, siapa yang menjadi manusiaku? Tuhan memang bisa saja diacuhkan oleh manusianya, tapi dia punya murka untuk mengancam dan dia punya kasih untuk mencipta. Kalau aku apa? Ohhh . . . . . Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu cinta pada nabi dan rasul yang diturunkannya, karena nabi dan rasul merupakan sahabat dan kekasih yang setia. Lalu, siapa yang menjadi sahabat dan kekasihku agar aku tidak kesepian. Bukankah ini sebentuk kecurangan Tuhan? Dia memang bisa saja ditinggalkan oleh sahabat dan kekasihnya --cerminnya, tapi dia punya kekuatan memaksa agar sahabat dan kekasihnya menjadi setia selamanya. Kalau aku apa? Ngapai juga aku memikirkan Tuhan? Bukankah dia adalah penyebab kesepian dan kehampaan duniaku saat ini? Aku tidak mau membincangnya lagi, apa gunanya aku bicara tentangnya? Dia juga tidak pernah mengizinkan aku untuk memiliki cermin. Bahkan dia tidak memberiku kemampuan untuk mencipta dan mengkreasi cermin. Aku akan membalasnya dengan menolak menjadi cermin baginya. Aku mau lihat sampai sekuat apa dia akan menggunakan murkanya untuk memaksaku kembali. Tapi apa dia tega? Aku rasa Tuhan tidak akan tega bertindak keras terhadapku, aku kan manusia –-manusia merupakan cermin-Nya. Bukankah cermin akan mudah retas bahkan retak kalau dikerasi.
* * *
Dug..!! Dug..!! Dug..!! “Bangun kau hai orang asing!!!” Teriakan itu seakan memecah gendang telingaku dipagi yang masih rawan. Kurang ajar benar mereka itu, berani-beraninya menggedor dinding duniaku, pasti mereka penduduk dunia sebelah. Tapi ada apa mereka membangunkanku? Bukankah aku dan mereka tidak pernah berhubungan sebelumnya? Atau jangan-jangan Tuhan mendengarkan kekecewaanku pada-Nya. Dan Dia tersingung? Tuhan bisa tersinggung? Mungkin saja kan? “Hai, apa lagi yang kau tunggu!!! Apa kau tunggu sampai kuguyur?” Teriakan itu terdengar lagi..., makin riuh..., seperti gemuruh gelombang badai. Ada apasih? Huh.... mengganggu mimpi pagiku saja, padahal mimpi di pagi hari seringkali makbul. Hmmmm, tapi akan dikabulkan oleh siapa? Bukankah kekuatan mengabulkan doa dan mimpi hanyalah milik Tuhan? Dan aku sudah mencaci-maki Tuhan! Apa mereka tidak mengerti, aku tidak butuh dibangunkan di pagi hari, yang aku butuhkan cermin untuk berkaca. “Tunggu.... aku harus cuci muka dulu... kalian membawa cerminnya kan?” Teriakku tak kalah garangnya. “Ha..... ha..... ha......... cermin apa? Dasar orang sinting, jangan cari-cari alasan, ayo bangun!!!” “Ada apasih?” Aku beranjak menuju dinding pembatas yang memisahkan dunia kami. Dari balik dinding kudengar bisik-bisik... “Apa dia pakai baju?” “Aku yakin tidak, dari mana dia membelinya?” “Di dunianya kan tidak ada mall, hyper market atau trade center” “Iya... ya... dia kan orang tinggal di dunia yang kuno” “Ha... ha... ha...”, mereka tertawa hampir bersamaan, aku beranjak pelan mendekati dinding pembatas itu, aku merasa tersinggung mendengar celotehan mereka, tapi apa yang bisa kulakukan? “Apa kau tak bosan di dalam situ sendiri? Ayo keluar saja ke sini”, teriak sebuah suara. “Atau kau izinkan saja kami masuk ke situ”, teriak suara yang lain. “Memang apa yang kau bawa untukku? Apa kau bawa cermin?” Tanyaku. “Cermin? Kenapa kau selalu bertanya tentang cermin?” “Ya aku butuh cermin sekarang?” “Untuk apa?” “Apa kalian tidak pernah bercermin?” Mereka terdiam mendengarku, sesaat kembali mereka tertawa... “Ha..... ha..... ha......... hari gini masih cari cermin? Ha..... ha..... ha.........” Mereka mentertawakanku. “Kami bawa mode buatmu.” Teriaknya. “Ya, kami juga bawa tontonan.” Lagi-lagi yang lain menimpali. “Tapi kalian tidak bawa murka Tuhan kan?” Tanyaku sengit, tiba-tiba perasaan berdosa itu muncul selintas. “Tuhan...????? Murka...???????” “Ha... ha... ha... Tuhan malah menghadiahimu pakaian model terbaru, soft drink dan pizza hot.” Lanjutnya. “Jangan mempermainkanku, kemarin aku telah melawannya karena dia tidak memberiku cermin!!” Sanggahku. “Tuhan tidak memerintahkan kita bercermin, Dia menyuruh kita bersolek, ayo buka pintumu, kami akan membantumu bersolek.” Aku terdiam beberapa saat di depan gerbang antar dunia yang memisahkan bagian bumi yang kami huni. Aku mencoba mengintip lewat celah dinding pembatas, mataku silau... Dunia sebelah ternyata begitu menyilaukan, penuh dengan cahaya lampu warna-warni. Pakaian mereka juga bercahaya, muka mereka bercahaya. Beda denganku, pakaianku sekedar menutupi badan. Muka belum kucuci sehabis bangun tidur barusan. “Kau tahu?” Suara itu terdengar lagi. “Tuhan sudah tidak membutuhkan kita sebagai cermin-Nya!” “Kenapa..........!? Tanyaku. “Cahaya kami terlalu silau bagi mata Tuhan, Tuhan malah tidak melihat apa-apa ketika bercermin kepada kami.” Jawab mereka. “Tak usah kau mencari cermin... Bersoleklah... Maka kau akan melihat dirimu dalam penghargaan dan penghormatan orang lain.” Seru mereka. “Ya, benar... Mereka akan menghargaimu dengan senantiasa menyodorkan produk baru mereka. Parfum Prancis, jam tangan Itali dan lain sebagainya...” Imbuhnya lagi. “Tapi aku takut..... Aku tak mengenali diriku sekarang...” “Tidak mengapa, dengan membuka gerbang duniamu, kami akan memberimu identitas dan harga diri baru... Kami akan memberimu prestise.” “Apalagi yang kau butuhkan selain itu, kejelasan identitas? Kesenangan? Kenikmatan? Permainan? Ayo buka pintumu...” Aduh apa yang harus aku lakukan? Memang aku merasa bodoh dan asing, bahkan aku tidak merasa mengenali diriku sendiri. Tapi aku juga tidak mengenali mereka, mereka semua memakai topeng cahaya. Kalau aku membuka pintu bagi mereka, apa mereka tidak akan memakaikan topeng cahaya itu kewajahku? Lalu siapa yang akan mengenaliku? Apakah aku masih bisa mengenali diriku kalau aku menemukan cerminku kelak? Dug..!! Dug..!! Dug..!! Kembali mereka menggedor-gedor gerbang duniaku. Gerbang belum kubuka, mereka malah bertanya..... “Apa kau tidak takut...” “Takut? Ya, aku takut pada murka Tuhan sekarang, meskipun aku pernah melawan dan mencacinya, tapi aku rasa dia masih punya murka.” Jawabku sekenanya. “Kalau kau tidak memuka gerbangmu, kau akan dituduh membangun dunia kegelapan dan kami punya alasan untuk menyerbu dan merampas duniamu.” “Apa kalian tidak takut Tuhan?” Balik aku yang bertanya. “Tuhan adalah sahabat kami, kami telah mendudukkannya di posisi yang layak.” “Tuhan malah mungkin minder karena kami sangat kreatif. Tuhan sadar bahwa suatu saat nanti kami akan lebih kreatif darinya...“ “Betulllll... Tuhan harus tahu diri...” “Ha... Ha... Ha...” Gedoran di gerbang duniaku makin kuat. Aku terdiam, bersandar di gerbang, lututku gemetar... Dalam hatiku berguman, Sekarang aku sadar, aku benar-benar cermin bagi Tuhan... Apa yang aku alami sekarang adalah nasib yang dialami oleh Tuhan karena perlakuan dari dunia sebelah. Tiba-tiba sebuah suara menggema di rongga dadaku, seakan memenuhi seluruh angkasa belahan duniaku. “Kau mulai bisa memahami, kenapa kau merasa asing dan bodoh hai hamba-Ku?” “Itu adalah suasana hati-Ku, dan kau adalah cermin bagi-Ku...” Ungkap suara asing itu. “Kamu siapa....?” Aku makin merasa takut, sementara itu gedoran di gerbangku masih saja terdengan, bahkan makin kuat. Tanyaku tak dijawab-Nya... “Janganlah berkecil hati karena kau merasa Aku biarkan sendiri dan asing, itu Ku-lakukan karena Aku memilihmu hanya untuk-Ku.” Aku mulai sadar siapa yang kutemani bicara, Tuhan! “Apa aku pantas untuk itu Tuhan?” Aku bertanya lagi, Dia kembali tak menjawab tanyaku, Dia terus saja berceloteh dengan suara yang serak....... “Tapi ternyata mereka menemukanmu juga, mereka tidak membolehkan Aku memiliki cermin........ Mereka telah memecahkan cermin-Ku, dengan alasan mode dan memperelok tampilan cermin-Ku, mereka memolesnya dengan berbagai macam produk yang menimbulkan bayangan kamuflatif sehinga Aku kesulitan untuk mengenai diri-Ku juga.” Terdengar suara itu makin berat bertutur... “Aku tidak butuh cermin yang bersolek kepalsuan, Aku hanya butuh cermin yang alami, Aku butuh hati yang senantiasa mengingat-Ku meskipun ingatan itu sebentuk afirmasi dan negasi atas keberadaan-Ku sebagaimana yang kau lakukan selama ini. Aku mulai tidak peduli dengan gedoran dan teriakan mereka, aku bertanya pada-Nya, “Apa kau telah menyerah pada mereka Tuhan? “Tidak...!!! Aku membiarkan mereka menikmati gemerlap pada mode sampai cahaya keberhasilan yang mereka capai membuat mereka silau dan tak lagi menemukan jalan kembali.” “Lalu?” Tanyaku singkat. “Saat itulah Aku akan menjadi cermin yang memantulkan kesialuan itu kembali ke mereka. Saat itulah mereka akan buta dan tuli, hati mereka mengeras dan membatu, dan mereka akan saling membinasakan satu sama lain.” Tuhan menjawab dengan lugas. “Aku takut dengan keadaan itu Tuhan” “Tak usah takut, Aku Maha Kuat untuk menjaga cermin-Ku, bukankah kau adalah cermin-Ku?” “Jadi, apa yang harus Aku lakukan?” “Buka saja gerbang itu, Aku akan menjagamu...” “Tunggu!!! Aku akan membuka gerbang ini...” Seruku kearah balik gerbang. “Kenapa begitu lama?” Tanya itu tak kujawab, sudah tak ada gunanya. Perlahan gerbang itu aku buka, cahaya menyilaukan berpendar.... Tanpa aku sadari muncul cahaya lain yang lebih terang dari ufuk timur duniaku. Cahaya yang lebih terang namun jernih..., tidak menyilaukan. Aku terseret..., hanyut..., larut dalam cahaya dari timur itu... Aku menjelma cahaya...... Yogyakarta, 02 Maret 2006

Selanjutnya!

Friday, December 01, 2006

Cermin Hati Bagas

Aku seringkali malu pada diri sendiri, apa aku memang begitu bodoh dan berbeda dari manusia yang lain? Kok aku tidak pernah berhasil menarik perhatian mereka untuk sekedar simpati padaku. Aku merasa hidup dalam sebuah dunia yang terbelah, satu belahannya diisi oleh seluruh orang lain dan belahan yang satunya lagi aku huni seorang diri.
Memang dunia yang menjadi bagianku begitu luas dan lempang, tapi apa guna sebuah dunia yang luas kalau kita harus menjalaninya seorang diri? Tetap saja akan terasa sempit. Adakah manusia yang bisa hidup seorang diri? Tentu semua orang akan menjawab tidak! Termasuk aku, jawabankupun sama, aku tak bisa hidup sendiri. Tapi yang aku hadapi bukan persoalan bisa ataukah tidak bisa, hidup sendiri menjadi suatu keharusan bagiku. Aku harus hidup sendiri dalam duniaku yang sunyi sebab aku orang asing. Aku orang terbuang. Tak ada yang bisa mengerti dan tak ada yang mau mengerti. Bahkan aku sendiri tak pernah berhasil memahami diriku. Mungkin karena inilah maka aku dijauhi, aku memang bodoh, mengenal diri sendiri saja tidak bisa. Tapi apa mungkin ada orang yang bisa mengenali dirinya sendiri secara sempurna dan menyeluruh? Jangankan mengenal, melihatnya saja tidak akan ada yang mungkin bisa. Sejak lahir sampai sebesar ini, aku tidak pernah bisa melihat seluruh batang tubuhku. Aku merasa asing dengan punggungku, telingaku, hidungku, mulutku bahkan mataku yang aku pakai melihat tak pernah aku kenali. Tampaknya untuk mengenali diri dengan baik, kita butuh cermin, karena cermin adalah media untuk melihat pantulan diri yang paling jujur dan tak pernah berdusta. Cermin tak pernah berkomentar apa-apa, dia hanya bisa menunjukkan. Kalaupun dia bersuara mungkin hanya “Ini dirimu” yang akan selalu diulang-ulang oleh sang cermin ketika berhadapan dengan seseorang. Aku harus punya cermin, tapi bukankah aku hanyalah orang asing di belahan duniaku sendiri? Lalu pada siapa aku bisa meminjam atau meminta? Bagaimana pula kalau aku butuh cermin bagi hatiku, pribadiku? Adakah cermin yang bisa memantulkan hati dan pribadiku dengan baik? Bukankah itu hanya bisa diperankan oleh seorang sahabat atau kekasih? Aduh! Sungguh malang nasibku. Tak punya sahabat apalagi seorang kekasih untuk bercermin dan mengeja diri. Aku begitu asing, bukan saja bagi seluruh manusia di dunia sebelah, bahkan bagi diriku sendiri. Lalu apa yang harus aku lakukan? Kalau pada diri sendiripun aku menjadi asing bagaimana aku bisa berani mencari seorang sahabat atau kekasih?
* * *
Krrriiiiiingggg............!!!!!!!! Bel tanda waktu istirahat berakhir, Bagas menutup buku harian yang diisinya sepanjang waktu istirahat tadi. Dengan cepat buku bersampul biru itu disusupkan kedalam tas, matanya melirik kesekeliling untuk memastikan bahwa tindakannnya tidak mengundang perhatian teman-teman sekelasnya, yang berlarian masuk dan duduk di bangku masing-masing dengan tertib. Tanpa sepengetahuan Bagas, dua pasang mata memerhatikan gerak-geriknya dengan seksama. Ya dua orang gadis, yang satu rambut blonde bernama Imelda, yang satunya lagi di kepang dua, Shanty. Sudah lama mereka memperhatikan gelagat Bagas, sejak isyarat cinta Imelda ditak berbalas dari cowok berkacamata itu. “Hai Mel.., Shanty.., kalian lagi merhatiin apasih? Kok serius amat, paling juga pak Ahmad telat masuknya, jangan tegang gitu non”. Suara cempreng Ranti membuyarkan konsentrasi Imelda dan Shanty. “Ngg..... nggak, aku cuma lagi tegang aja sih, semalam aku lupa mengerjakan tugas, emang pe-er kamu sudah selesai?” Sergah Imelda sekenanya. “Sudah, siapa dulu dong, Ranti.... sia-sia aku ikut les kalo soal seperti itu nggak bisa aku selesaikan dengan baik... ngampang non, kali aja kalian mau nyontek?” “Ngapain juga nyontek sama kamu, kita masih punya harga diri tau’!!!” Shanty menyahut dengan agak ketus. “Ih segitunya, kamu kok sensi banget Shan, aku juga cuma bercanda kok... ya kan Mel..” “Ya sudah... lebih baik kita duduk yang baik dan nunggu pak Ahmad datang, soalnya kalau beliau datang dan kita masih ribut... wah bakalan kena hukum deh kita sekelas.” Imelda melerai, sambil sesekali matanya melirik kearah Bagas. Ketika pah Ahmad masuk, Bagas mengikuti pelajaran seperti biasa, tapi lain halnya dengan Imelda, sampai bel pulang berdentang, perhatiannya terhadap mata pelajaran sungguh tidak ada. Sesekali matanya mencuri pandang kearah Bagas. Imelda sungguh penasaran dengan buku bersampul biru yang membuat Bagas begitu betah dan tidak keluar ruangan ketika istirahat tadi. “Jangan-jangan buku itu menyimpan rahasia yang bisa menjelaskan kenapa Bagas tetap dingin kepadaku”, batin Imelda. Sudah beberapa minggu terakhir, Imelda sedang berusaha menarik perhatian Bagas dengan mengirimkan sinyal-sinyal cinta kepadanya. Bel pulang berdentang... “Shan, aku penasaran deh dengan buku bersampul biru itu, kamu lihat juga kan tadi Bagas menyimpannya dengan begitu hati-hati.” Sambil membereskan peralatan belajarnya, tatapan Imelda tetap mengarah kearah Bagas. Sementara itu Bagas melangkah perlahan keluar kelas mengikuti langkah siswa lainnya tanpa perasaan apapun. “Iyya juga sih, tapi kamu kok perhatian banget sama Bagas? Apa kamu masih penasaran dengan sikap dinginnya kepadamu selama ini?” tanggap Shanty. “Sudah... ayo kita pulang, aku sudah lapar nih, pasti pak Kusno yang menjemputmu sudah menunggu tuh...” Lanjutnya. Sambil berjalan beriringan keluar kelas, “Kamu ikut aku aja Shan, bete juga kalau aku cuma berdua dengan pak Kusno di mobil”. Ajak Imelda pada sahabatnya. “Bener nih? Oke... deh.” Didalam mobil mereka menyusun rencana untuk mencari tahu apa isi buku bersampul biru milik Bagas. “Besok pagi jangan sampai datang telat ya?” “Aku nggak bisa jamin Mel, kamu tahu sendiri kan, gimana susahnya mencari angkot yang kosong kalau pagi”. “Kalau gitu aku jemput, jam 06.30 kamu harus sudah siap agar rencana kita bisa segera dilaksanakan besok.” “Oke.........!” Keduanya berjabat tangan dengan gembira, pak Kusno cuma senyum keheranan melihat tingkah kedua gadis remaja itu. * * * “Gas, kamu mau tolongin aku nggak?” Shanty berjalan tergopoh menuju Bagas, ruang kelas masih lengang. Siswa yang sudah pada datang memilih bercengkrama di taman sekolah sambil menunggu bel tanda pelajaran dimulai berdentang. “Mmmm...... Eh... Ah..... tolongin apa?” Jawab Bagas dengan sedikit gemetar sambil membetulkan letak gagang kacamatanya. “Aku ada sedikit urusan dengan pak Ahmad, kamu mau kan?” “Lalu apa yang harus aku lakukan.... Shan...?” “Kamu temenin aku menghadap beliau dong!” “Sekarang?” “Iya, sekarang! Kapan lagi?” Jawab Shanty ringkas. “Ayo, kita temui beliau di ruang guru”. Lanjutnya sambil menggaet lengan Bagas. “Tunggu Shan......”, sambil mengeluarkan tasnya dari laci meja. “Aduh... Bagas... ngapain bawa tas segala, malu-maluin tahu... taruh aja ya...” “Tapi Shan..........” “Nggak ada tapi-tapian! Ayo cepetan....., entar keburu masuk lagi..........” Shanty menarik lengan Bagas, setengah menyeret keluar kelas, Bagas meninggalkan tasnya teronggok diatas meja. Sepasang mata Imelda mengikuti kejadian itu dengan seksama dari tadi. Saat Shanty dan Bagas sudah dirasanya jauh, Imelda beranjak perlahan mendekat kearah meja dimana tas sekolah Bagas teronggok. Jantungnya berdegup kencang..... Dia merasa sedikit bersalah melakukan ini............ Tapi rasa penasaran lebih menghantui pikirannya.... Tas itu dibuka perlahan, dilihatnya buku bersampul biru terselip disela-sela buku pelajaran Bagas. Deg......!!! Deg......!!! Deg......!!! Deg......!!! Degup jantungnya kian kencang. Sambil celingukan keseluruh kelas, dengan cepat disambarnya buku tersebut lalu dibukanya, pas halaman yang terakhir ditulisi. Imelda mulai membaca...... “Aku seringkali malu pada diri sendiri, apa aku memang begitu bodoh dan ...........” Disertai nafas yang tertahan dibacanya kalimat demi kalimat dengan cepat sampai selesai, degup jantunnya kian berdebar. Deg......!!! Deg......!!! Ketika tulisan itu selesai dibaca, Imelda mengambil pena dan menulis sepenggal pesan dibawahnya, Apa kau masih butuh cermin? Aku masih siap menjadi cermin bagimu... Hubungi aku 081380421842 Perlahan buku itu disimpannya kembali seperti semula lalu dia kembali kebangkunya. Setelah menenangkan suasana hatinya yang masih bergejolak, dia mengeluarkan hape lalu me-missed call kepada Shanty sebagai tanda bahwa sandiwaranya sudah harus berakhir.
* * *
Sejak mendapatkan pesan singkat disertai dengan nomor hape tersebut, Bagas selalu berfikir tentang siapa gerangan yang telah membaca buku hariannya yang bersampul biru. Dia juga tidak berani menghubungi nomor tersebut. Suatu siang, tiga hari sejak kejadian tersebut, Bagas belum juga menghubungi nomor hape yang tertera di buku hariannya. “Aku harus sms orang ini.” Batinnya... Bagas mengeluarkan hape dari saku celananya. “Tapi kalau aku sms dia, apa tanggapan dia ya?” Sanggah sisi batinnya yang lain. “Sms saja, kan dia sendiri yang minta..” “Tapi aku tidak kenal dia.” “Jangan sampai dia sekedar orang iseng.” “Aduh kenapa dia melakukan ini.......” “Jangan begitu dong Gas, cepat ambil keputusan.” Tit...!! Tit...!! Tit...!! Pertentangan batin yang dialami Bagas siang itu ditengahi oleh deringan pada hape-nya. Sebuah pesan masuk... Sdh baca psanq? Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 14 : 52 Ya sdh, maaf ini siapa? Bls. Keluar : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 03 Sekitar 10 menit Bagas menunggu jawaban sms-nya, tapi tidak ada. Dia kembali dilanda kebimbangan. Apa maunya nih orang? Dia putuskan untuk me-missed call nomor hape usil itu. Satu kali, dua kali, tiga kali......... sms-nya belum juga terbalas. Maaf, anda mgang2u sy. Apa mksud dr psan anda itu? Keluar : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 07 klu qmu tau aq, apa qmu tdk mrah ke aq? Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 12 Buat apa mrh? Keluar : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 17 Jnji ya? Klu qmu jnji bru aq trus trang... qmu mau Gas? Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 23 Ya, sy jnji... tp anda siapa? Keluar : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 28 Kembali sms Bagas tidak terjawab untuk beberapa menit. Bagas menanti dengan sabar... sampai...... Tit...!! Tit...!! Tit...!! Imel Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 23 Bagas tersentak membaca nama itu. Nama yang tidak dia sangka-sangka, memang dia merasa bahwa gadis itu berusaha mendekatinya, tapi dia hanya menganggap bahwa Imelda mendekatinya karena Bagas diharapkan bisa membantunya ketika ujian fisika. Selebihnya Bagas tidak berfikir macam-macam, tetapi.... Bagas bangkit dan duduk termenung, cukup lama......... Sampai hape-nya berdering, missed call dari Imelda... kok smsq g dbls, mrah ya Gas? Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 49 Maaf ya, aq tlah mbca diary qmu, tp aq jjr kok dgn psanq itu... Bls dong Gas  Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 54 Mel, qta bcra aja bsok d skul ya..... Keluar : +6281380421842 22 Februari 2006 15 : 59 oke, tp qmu g mrah ke aq kan? Masuk : +6281380421842 22 Februari 2006 16 : 05 Pesan terakhir itu tidak lagi dibalasnya, beberapa kali hape-nya berdering, karena missed call dari Imelda, Bagas tidak menghiraukannya. Bagas malah asyik di depan buku hariannya yang bersampul biru....
* * *
Tampaknya benar bahwa tidak ada orang yang dicipta untuk benar-benar sendiri. Setiap orang terlahir dengan membawa cerminnya masing-masing. Cuma ada orang yang bisa menjaga cermin tersebut, ada yang membiarkannya berdebu, bahkan ada yang tidak peduli dengan cermin tersebut dan membiarkannya hilang dari ingatannya. Aku lihat sisi dunia yang kumiliki tidak lagi kuhuni sendiri. Tamanku penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran dan harumnya semerbak memenuhi angkasa. Tak berapa lama lagi keindahan ini akan kunikmati bersama dengan cermin hatiku. Aku merasa dunia begitu indah dan aku adalah orang paling bahagia di dunia. Aku bukan orang yang bodoh dan asing, cuma selama ini aku yang mengasingkan dan membuat diriku bodoh. Aku terlalu lama menutup mata dan menyepelekan betapa banyak keindahan yang dianugrahkan kehidupan kepadaku. Takkan kubiarkan sisi dunia yang menjadi milikku menjadi sunyi dan tanah yang asing. Disini harus tumbuh keceriaan dan bermekaran kembang kebahagiaan agar damai bisa bersemayam di setiap hati yang berkunjung. Yogyakarta, 26-28 Februari 2006

Selanjutnya!

Monday, November 06, 2006

Nora, selamat jalan . . .

Nora menjadi anggota di keluarga itu sejak dua tahun lalu, dia tiba ketika hujan turun mengguyur kompleks perumahan yang terletak di pingir kota tersebut. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan tepatnya dia tiba. Dari lelaki yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota keluarga di rumah tersebut hanya mengatakan bahwa dia tiba-tiba didapat diteras rumah tersebut dengan badan yang basah kuyup dan menggigil kedinginan tanpa pakaian selembarpun.
Seluruh anggota keluarga dirumah tersebut sangat gembira dengan kedatangannya, tubuhnya yang ringkih digilir dalam gendongan semua anggota keluarga tersebut. Tubuhnya dikeringkan dengan handuk, disodori makanan dan diberinya dia selimut, setelah itu dia ditidurkan diatas sebuah tempat tidur yang berkasur empuk dalam sebuah kamar.
Sejak malam itu, dia resmi menjadi anggota keluarga tersebut. Dia ditempatkan sekamar dengan anak perempuan satu-satunya keluarga itu, dan dia merasa agak risih karenanya. Anak perempuan itu memperlakukannya seperti adik, darinyalah dia mendapatkan nama Nora, meskipun menurutnya nama itu mirip dengan nama perempuan, namun diterimanya juga nama itu tanpa protes meskipun dia merasa pasti bahwa dirinya seorang lelaki.
Waktu terus berlalu, Norapun bertambah besar dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan keluarga sederhana tersebut. Keluarga tersebut memperlakukannya dengan baik dan dia tetap diberi hak sama dengan siapapun yang ada di keluarga tersebut, walaupun dia tetap merasa dirinya berbeda, namun keluarga tersebut tidak terlalu peduli dengan keadaan itu.
Keluarga itu hanya terdiri dari empat orang, seorang ayah, seorang ibu dan dua orang anak, seorang lelaki dan seorang perempuan. Namun rumah tersebut sering kosong bila siang hari, hanya anak perempuan itulah yang paling banyak berada dirumah. Anak perempuan itu didengarnya dipanggil Netty dan yang lelaki bernama Randy sedang sang ayah dikenal sebagai Pak Roger dan istrinya disapa Bu Roger, entahlah siapa nama sebenarnya Nora juga tidak tahu.
Setiap pagi, Pak Roger dan isrinya keluar bersama dengan menggunakan mobil Honda Civic yang mereka miliki. Dandanan rapi yang mereka gunakan menunjukkan mereka orang yang punya posisi terpandang di tempat kerja, tapi entahlah apa dan dimana pekerjaan mereka Nora juga tidak pernah menanyakannya, dia juga tidak tahu kenapa dia tidak menanyakannya. Baginya, diterima dengan baik di keluarga ini saja sudah cukup.
Sejak dia berada di rumah tersebut, Nora sudah merasa ada yang berbeda antara dia dengan semua anggota keluarga yang lain, meskipun keluarga Pak Roger tidak memperlakukannya dengan diskriminatif, bahkan cendrung berlebihan dalam memperlakukannya, dia merasa tetap ada jarak yang tidak bisa ditembus diantara mereka.
Ketika bercengkrama dengan si Netty, sering muncul keinginannya untuk mencoba membicarakan hal tersebut dari hati-kehati, namun dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.
Dia hanya mampu menyampaikan hal yang dirasakannya tersebut lewat sorot mata yang penuh tanda tanya. Namun apa yang dilakukannya itu tidak membuat Netty mengerti dan kemudian menjelaskannya, malah Netty balik memandanginya dengan muka yang berhias senyum kasih sayang dan mengelus rambutnya berkali-kali. Bila sudah seperti itu dia akan tertunduk dan bahkan sering sampai berbaring dipangkuan Netty.
Kian hari dia makin merasakan perbedaan itu, ketika mereka duduk bersama di meja makan dan menikmati santap malam. Dari sekian banyak jenis makanan yang disajikan, hanya satu yang disentuhnya, ikan. Baginya itu hal yang aneh bila dibandingkan dengan Netty atau Randy misalnya, yang dengan lahapnya bisa menikmati sayur dan nasi.
Tapi lagi-lagi bagi keluarga itu, hal tersebut bukan hal yang istimewa. Menurut Bu Roger, malah orang lain lebih aneh lagi, dia punya teman yang hanya suka makan sayuran, kalau tidak salah menurut Bu Roger itu disebut vegetarian. Belum lagi orang-orang yang hanya makan steak atau roti tawar, timpal Pak Roger. Justru mereka bangga punya anggota keluarga yang punya kebiasaan lain, hanya makan ikan dan enggan makan nasi atau sayur, seperti Nora.
Permakluman yang diberikan oleh keluarga tersebut kepadanya membuat Nora merasa enjoy menjalani kelainannya tersebut, yang bagi keluarga tersebut sebagai hal yang lumrah. Bahkan seringkali, bila dia lagi lapar dan belum waktunya makan, dia akan mengambil sendiri ikan yang berada di meja makan, bila melihat hal tersebut, anggota keluarga sederhana itu akan tersenyum kegirangan, malah membantunya memindahkan ikan kedalam piringnya.
Bila pagi hari dia ditinggal sendiri, sering juga Nora bertanya dalam hati, kenapa dia belum disekolahkan juga seperti Netty supaya nanti dia bisa kuliah seperti Randy. Namun keluarga Pak Roger tidak megizinkannya keluar rumah. Nora sering merasa kesepian bila ditinggal sendiri, dia tidak punya teman bermain. Untunglah akhir-akhir ini ada seekor kucing tetangga yang sering datang kerumahnya dengan diam-diam.
Hanya ini yang bisa sedikit mengobati kesepiannya, dia suka sekali dengan kucing betina itu, warnanya putih dengan sedikit bauran hitam di wilayah leher. Kucing tetangga tersebut memiliki bulu yang lebat dan sangat bersih, seekor kucing yang sangat menarik hati. Tapi dia biasanya main dengan kucing tetangga itu bila pagi hari, sebab Netty tidak terlalu suka dengan kehadirannya, mungkin dia cemburu.
Bukan cuma Netty, Bu Rogerpun pernah memperingatinya untuk tidak terlalu dekat dengan kucing betina milik tetangga tersebut, jorok katanya, padahal Nora suka sekali dengan kucing itu. Sering dia mengajak kucing tersebut main kejar-kejaran dari kamar kekamar sampai mereka kelelahan setelah itu mereka akan terkapar terengah di atas sofa di ruang tamu dan kucing itu akan terbaring dipangkuannya dan mengelus-eluskan kepalanya di lengannya, dia begitu bahagia, maklum tidak ada teman lain kecuali kucing tersebut.
Sebenarnya, ingin sekali dia memperlihatkan keanehannya kepada kucing betina tetangga tersebut, bahwa dia cuma suka makan ikan dan tidak nasi atau sayur, namun niat itu diurungkannya. Bahkan dialah yang jadi penonton ketika kucing betina tetangga tersebut memperlihatkan keanehannya padanya dan dia mengaggap bahwa hal itu sesuatu yang begitu spektakuler.
Ternyata kucing tetangga itu mempunyai hobby berburu tikus dan setelah itu dijadikannya santapan yang begitu lezat. Pada awal melihat hal itu, dia merasa begitu jijik sehingga perutnya mual dan hampir muntah, namun lama-kelamaan, dia memaklumi hal tersebut dan menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang sangat hebat, dia belum pernah mendengar hal serupa. Maklum dia tidak pernah berhubungan dengan orang lain diluar keluarga Roger kecuali dengan kucing betina milik tetangga tersebut.
Bahkan kebiasaan kucing betina tetangga tersebut sampai menular kepadanya, tapi tidak sampai memakannya, hanya sampai pada anggapan bahwa bermain dengan tikus sebagai permainan yang begitu mengasyikkan. Mengetahui bahwa Nora suka bermain tikus, Netty pernah menawarkan untuk membelikan boneka sebagai gantinya, asal jangan tikus, tapi tawaran itu tak dihiraukannya.
Sebenarnya dia mau minta kepada Netty agar dibelikan seekor tikus putih, menurutnya, makhluk yang satu itu begitu manis dan imut-imut, dia pernah melihatnya sekali di televisi dan sejak itu dia punya obsesi untuk memelihara tikus putih, tapi dia malu menyampaikannya. Keinginan tersebut hanya disimpannya di dalam hati karena dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.
Suatu hari, seperti hari-hari sebelumnya, ketika semua orang dirumah sudah pada berangkat, kucing betina tetanggapun sudah datang mengendap-endap dan masuk lewat jendela dapur. Hari itu ada sesuatu yang lain dengan kucing itu. Sejak datang dia lebih banyak diam, ketika Nora mengajaknya main kejar-kejaran atau berburu tikus, dia tidak beranjak sedikitpun, dia hanya menatap Nora lekat-lekat.
Tiba-tiba dia mendekati Nora lalu mengelus-eluskan kepalanya di lengan Nora. Ada apa? Nora bertanya padanya. Apa aku punya salah padamu? Kucing tetangga itu hanya diam dan mengalihkan pandangannya kearah jendela yang mengarah kehalaman. Apa? kau mengajakku main diluar? Mendengar pertanyaan Nora, mata kucing betina tetangga tersebut berbinar cerah lalu dia berlari dan dengan sebuah isyarat, mengajak Nora mengikutinya.
Ternyata, ketika tiba di halaman, kucing betina tetangga tersebut terus berlari menyeberang jalan raya dan berhenti menunggu Nora di seberang. Ketika Nora mengikutinya menyeberang, tiba-tiba dari arah samping meluncur sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Nora yang sudah berjalan berusaha menarik langkahnya untuk menyelamatkan diri, namun naas baginya, pinggulnya sempat keserempet.
Tubuh Nora terhempas kembali masuk kedalam halaman keluarga Roger. Dia tak sadarkan diri, entah berapa lama dia pingsan. Ketika tersadar, dia mendapati dirinya sudah berada dikamar Netty diatas tempat tidur yang selama ini mereka gunakan bersama. Samar-samar dia melihat semua anggota keluarga Roger mengelilinya dengan wajah harap-harap cemas.
Dengan mata yang bercucuran air mata Netty berguman lirih, jangan meninggalkan kami Nora, kami semua menyayangimu. Dia begitu terharu mendengar kata-kata Netty, tapi tenaganya sudah semakin payah, dia tidak mampu mengatakan apa-apa, dia merasa tidak tahu dengan kalimat seperti apa dia mengungkapkannya dan dengan kata-kata model bagaimana dia mengatakannya.Ketika nafasnya mulai tersengal dan dirasanya bahwa maut sudah tidak mungkin terelakkan, dengan pandangan sayu, di tatapnya kembali lekat-lekat semua anggota keluarga Roger yang dicintainya, dia ingin menyampaikan ucapan terima kasihnya yang terakhir. Saat rohnya serasa sudah di tenggorokan, dia merasa butuh untuk mengucapkan salam perpisahan, terucaplah kata meong dengan suara bergetar dan matilah Nora si kucing siam yang manis.

Selanjutnya!

POE MAN TE

Wah, masjid ini artistik juga. Tangannya disusurkan disepanjang dinding batu yang menjadi ciri khas masjid tersebut. Akhirnya sampai juga aku dimasjid tua ini, pikirnya. Tapi kalau dipikir-pikir, bagaimana cara orang dulu membangun masjid ini? Batu dindingnya saja sebesar ini, bagaimana mengangkutnya ya? Kembali dia membatin. Ah, sudahlah. Daripada pusing, lebih baik aku istirahat saja di masjid ini dulu, udara diluar juga sangat panas, sekalian saja aku tunggu waktu ashar. Kapan lagi aku ke Palopo, mumpung ada kesempatan. Direbahkannya badannya dilantai marmer. Disekitarnya, beberapa jamaah juga melakukan hal yang sama, disamping itu ada juga yang berbincang ringan sambil selonjoran, yang lain pada mengaji. Mungkin mereka juga berpikiran sama dengannya, sekalian menunggu waktu shalat ashar, daripada pulang kerumah di bawah terik mentari yang sengatannya kurang bersahabat ini. Anak muda, tolong perbaiki arah tidurmu. Seorang lelaki paro baya membangunkannya ketika tidurnya sudah mulai lelap. Ada apa dengan gaya tidur saya puang? Tanyanya sambil mengucek-ucek kedua matanya. Gaya tidurmu itu pamali dalam tradisi kami. Maaf kalau begitu puang. Ucapnya sambil bangun dari tidurnya dengan malas. Lelaki itu masih berada disampingnya, malah kini lelaki itu memilih duduk disampingnya. Kamu orang baru di sini anak muda? Betul puang, aku baru ke Palopo. Begini anak muda, dalam tradisi kami disini kalau tidur, kaki tidak boleh ditempatkan disebelah barat, itu tidak pantas, itu sama saja dengan tidak menghormati ka’bah. Makanya tadi aku menegurmu, maaf kalau itu mengganggu tidurmu. Tidak apa-apa puang, justru akulah yang berterima kasih pada puang. Tiba-tia dia memberanikan diri bertanya pada lelaki paro baya itu. Puang orang Palopo asli? Tidak bisa dikatakan begitu anak muda, karena aku ini bukan orang luwu, tapi mengenai masjid ini, aku begitu mengenalnya. Lelaki itu menghela nafas panjang, dia menyandarkan kepalanya ketiang masjid yang kebetulan ada didekatnya. Suasana hening sejenak. Aku sebenarnya keturunan cina-vietnam anak muda. Sudah bisa saya perkirakan puang. Maksudmu? Mata puang agak sipit sebagaimana umumnya orang tionghoa yang ada di Indonesia ini. Tapi puang tinggal dimana? Sepertinya aku tidak menemukan ada orang tionghoa di Palopo sini? Lelaki itu kembali menghela nafas dalam-dalam. Panjang ceritanya anak muda. Aku memang tidak menetap di sini, aku hanya mengikuti teman saya yang bernama Sam Pe Kong, dialah yang memperkenalkan aku dengan Datuk Sulaiman yang kemudian mengajariku Islam. Kamu kenal Datuk Sulaiman? Mmmm, rasa-rasanya aku pernah mendengarnya puang. Ah sudahlah, diceritakan juga kau tidak akan mengerti anak muda. Oh ya, dalam rangka apa kamu berada di Palopo? Sekedar mengisi waktu liburan puang, sekalian saja aku ikut sama teman yang orang Palopo. Aku begitu terobsesi untuk melihat masjid ini puang, aku penasaran dengan ceritanya tentang masjid ini. anda punya informasi tentang masjid ini puang? Soalnya aku penasaran sekali. Lelaki itu tersenyum, dengan gerakan yang sigap diperbaikinya kain sarungnya, potongan pakaiannya kelihatan agak kuno, dia kemudian duduk bersila. Mesjid ini, kalau mau dihitung dengan kalender masehi, didirikan sekitar tahun 1604. Saat itu, kerajaan Luwu diperintah oleh Sultan Abdullah, beliaulah raja luwu yang pertama memeluk Islam. Kalau tidak salah ingat, Sultan Abdullah adalah Raja Luwu yang ke XVI. Jadi, masjid inilah yang tertua di daerah ini puang? Sebenarnya mesjid yang pertama dibangun, didirikan di daerah Bua, namun karena hanya terbuat dari kayu, maka masjid itu kemudian tidak berbekas lagi sampai sekarang. Untunglah masjid ini dibangun dari batu gunung jadi bisa bertahan sampai sekarang. Lelaki itu menghentikan ceritanya, pandangannya diedarkan keseluruh sudut masjid. Matanya yang sipit nampak berkaca-kaca. Anak muda, kamu tidak ngantuk? Tidurlah, nampaknya kau agak lelah, waktu ashar masih lama. Tidak puang, nampaknya cerita tentang masjid ini mampu mengalahkan rasa ngantukku. Lelaki itu kemudian kembali memperbaiki duduknya, sarungnya yang sedikit tersibak diselipkannya dibawah betis. Suasana masjid agak lengang, Puang, menurut kabar yang kudengar, tiang soko guru yang berdiameter 90 centimeter itu, dari kayu cangaduri ya? Betul sekali anak muda. Tapi puang, tampaknya hal itu mustahil untuk kuterima karena. Karena apa anak muda? Soalnya, setahuku, cangaduri itu hanyalah sejenis perdu yang rasanya tidak mungkin bisa sebesar itu. Keduanya terdiam. Tiba-tiba lelaki paro baya itu berdiri melangkah mendekati tiang sokoguru mesjid, yang dikelilingi oleh dinding kaca transparan. Anak muda, coba perhatikan, tiang soko guru ini penuh dengan bekas dikikis bukan? Betul puang. Nah itulah penyebabnya. Penyebab apa puang? Aku tidak mengerti. Kenapa cangaduri sekarang menjadi sekedar tumbuhan perdu. Saat masjid ini dibangun, tumbuhan cangaduri bukanlah tumbuhan perdu, bahkan tumbuhan cangaduri ini banyak lebih besar dari tiang sokoguru ini. Lalu apa hubungannya dengan bekas kikisan itu puang? Ketika mesjid ini selesai dibangun dan hal itu berlalu sehingga ratusan tahun, orang-orang menjadikan masjid ini sebagai masjid keramat, sehingga mereka mengikis terus menerus tiang sokoguru ini untuk dijadikan obat. Akibat perbuatan mereka itu, tiang ini makin hari makin mengecil. Dan dampak lebih jauh dari perbuatan itu adalah, tumbuhan cangaduri yang lain mendapatkan kutukan, sehingga tidak ada lagi pohon cangaduri yang bisa sebesar ini. mata lelaki parobaya itu berkaca-kaca, setelah menghela nafas panjang dan dalam, dia melanjutkan ceritanya. Kau tahu? Tiang ini didirikan dengan bersisi 12 sebagai upaya simbolisasi atas bersatunya keduabelas anak suku yang mendiami daerah luwu ini dibawah kekuasaan Sultan Abdullah. Ah, sudahlah. Itu masa lalu, ayo kita duduk kembali, nampaknya kau masih begitu lelah anak muda. Lelaki parobaya itu berjalan kearah tiang penyangga atap sebelah kanan mimbar lalu duduk dan bersandar pada tiang tersebut. nampaknya dia punya ikatan yang sangat dekat dengan masjid tersebut. anak muda itu ikut duduk di sampingnya. Sebenarnya aku masih penasaran dengan masjid ini puang. Kalau diperhatikan, nampaknya pembangunan masjid ini begitu mustahil dilakukan pada tahun 1604. Kenapa kau berkata begitu? Soalnya, tembok masjid ini begitu tebal, diangkut dengan apa batu-batu ini dari pegunungan sana? Kemudian, dengan apa bat-batu ini direkatkan? Bukankah pada saat itu masyarakat luwu belum mengenal semen? Ha . ha . ha . anak muda, kamu jangan terlalu meremehkan orang dulu. Batu-batu itu diangkut dengan tenaga manusia, namun karena cinta mereka akan kebenaran Islam dan semangat mereka untuk mendirikan masjid, semua ini dapat dilakukan hanya dalam 77 hari. Mengenai bahan perekatnya, masjid ini menggunakan putih telur. Wah, spektakuler!!! Tiba-tiba pemuda itu berteriak kegirangan. Sementara itu, lelaki parobaya disampingnya termenung dan samar terlihat cairan bening bergulir halus dipelupuk matanya. Kenapa puang menangis? Tiba-tiba pemuda itu bertanya lagi. Aku rindu pada mereka semua, mereka orang-orang gigih dan tanpa pamrih. Pemuda itu terdiam sejenak. Maafkan aku puang, aku telah membuat anda bersedih. Sambil berdiri lelaki parobaya itu menjawab. Tidak anak muda, semua hal ini pantas engkau ketahui. Oh ya puang. Anak muda itu menyusul berdiri. Ada apalagi anak muda? Kalau boleh aku tahu, puang bernama siapa? Namaku Po Man Te. Lelaki parobaya itu melangkah keluar. Pemuda itu kembali duduk, sementara itu mulutnya tak pernah henti menggumankan nama itu. Po Man Te, Po . . Man . . Te . Po . . ., Man . . ., Te . . .. Anak muda, bangunlah, adzan ashar sudah berkumandang. Astaghfirullah, aku bermimpi rupanya. Betul anak muda, kamu mungkin sedang bermimpi. Seorang jamaah menjawab sambil menghamparkan sajadah. Kau mengulang-ulang menyebut nama Po Man Te. Kau kenal siapa Po Man Te anak muda? Sambil mengucek-ucek kedua bola matanya yang masih terasa berat. Aku tidak mengenalnya puang. Jemaah itu tidak menjawab melainkan menunjuk kearah sebuah papan tua yang terpasang didinding masjid sebelah barat. Dipapan itu tertulis, masjid ini didirikan pada tahun 1604 M oleh Po Man Te.

Selanjutnya!

Kondominium BG 75

Siang itu, suasana diruang pertemuan dewan Kondominium BG 75 sedang ramai, semua kursi yang tersedia sebanyak 50 buah terisi dengan sempurna. Beberapa saat kemudian, nampak masuk seorang pemuda yang berjanggut tipis, memakai jubah putih sebatas lutut dengan tangan yang menenteng laptop serta map plastik yang berisi beberapa lembar kertas kusam, barang yang sudah langka di tahun 2338.
Tampaknya ada sebuah masalah penting yang akan mereka bicarakan. Sejak masuknya pemuda tadi suasana menjadi hening, tidak begitu lama berselang, dimulailah pertemuan itu dengan terlebih dahulu mereka bersama-sama mendengarkan bacaan Al-Qur’an elektronik yang mengalun syahdu. Setelah itu, terlihatah sang pemuda memulai pembicaraan.
* * * * *
Tahun 2338, ketika dunia makin sesak, umat manusia mencari alternatif lahan hidup baru. Pilihannya jatuh pada model kondominium. Manusia membangun koloni-koloni di luar angkasa dalam bentuk kondominium yang berwujud kapsul-kapsul raksasa. Setiap memiliki panjang 1,5 kilometer, ukuran tinggi dan lebar masing-masing 250 meter.
Dalam setiap kapsul terdapat 5 lantai, masing-masing lantai dihubungkan oleh dua buah lift yang terdapat di ujung kondominum. Pada tiap lantai terdapat ruangan-ruangan yang ditata berdasarkan fungsinya. Setiap kondominium dipimpin oleh sebuah dewan dengan kantor yang terletak pada lantai 5, tepatnya di dekat stasiun pesawat luar angkasa yang terletak ditengah-tengah kapsul. Dengan pesawat itulah para penghuni kondominium melakukan perjalanan antar kapsul dan antar kapsul dengan bumi. Dengan pesawat itu pula mereka mengangkut bahan makanan yang tetap diproduksi di bumi.
Kondominium BG 75 adalah salah satu kondominium dari sekian banyak kondominium yang ada. Semua ruangan kondominium ini diisi oleh anggota sebuah organisasi dakwah Islamiah. Organisasi ini dipimpin oleh seorang pemuda lajang yang bernama Kawâkibi, umurnya baru 24 tahun namun sudah begitu dewasa diusianya yang masih belia itu. Sejak dari kakek dan ayahnya, kondominium ini sudah dipimpin oleh keluarga mereka.
Dalam kondominium yang dipimpin oleh Kawâkibi ini, untuk lantai 1 secara umum wilayah dibagi menjadi dua area utama. Ujung utara ditempati oleh penghuni akhwat, sementara itu, ujung selatan dihuni oleh para ikhwan, termasuk Kawâkibi. Lantai 2 dan 3 dihuni oleh para anggota organisasi yang sudah berkeluarga. Lantai 4 dijadikan sebagai pusat kegiatan kondominium seperti masjid, perpustakaan, lembaga pendidikan sederhana untuk para putra-putri penghuni yang sudah berkeluarga, layanan kesehatan, dan sarana olahraga. Sementara itu, lantai 5 dijadikan sebagai pusat perkantoran untuk dewan kondominium.
* * * * *
“Ikhwa seiman dan seperjuangan yang saya hormati,” Kawâkibi memulai pembicaraan, “Kemarin malam aku baru saja datang dari bumi untuk menghadiri pemakaman pamanku. Dari istrinya aku mendapatkan beberapa arsip tentang perkembangan gerakan da’wah ketika organisasi ini mulai dirintis sekitar tahun 2000-2005, saudara sekalian dapat melihat slide berikut ini.” Kawâkibi mengaktifkan laptop yang sudah di hubungkan dengan fasilitas multimedia ruangan tersebut.
Di layar kaca besar yang terpampang muncullah sederetan kalimat yang baru saja di scan dari kertas-kertas kusam yang dibawanya dari bumi. Anggota dewan yang lain memperhatikan dengan serius dan membacanya dengan telaten. ^ secara sederhana, dapat digambarkan kondisi umat yang telah terjamah da’wah Islam atau yang belum. Pada saat ini, secara umum dapat kita saksikan bahwa sebagian besar perempuan-perempuan Islam masih kategori ikhwit. Hal ini diindikasikan oleh model pakaian mereka yang tergolong jilbib saja. Mereka belum memakai jilbab seperti yang seharusnya, karena itulah mereka belum bisa dikategorikan sebagai akhwat ^ Ketika membaca slide pertama, anggota dewan Kondominium BG 75 terperangah dan tidak mengerti, ikhwit ? jilbib ? kata-kata itu terasa asing bagi mereka. “Wah apa tidak salah nih ? Apa maksudnya dengan pembedaan ikhwit dan akhwat ? Demikian juga dengan jilbib dan jilbab ?” tanya seorang akhwat yang pakaiannya menutup hampir seluruh tubuhnya. “Betul, kami tidak mengerti dengan tulisan ini akhi, tolong dijelaskan agar kami bisa mengambil pelajaran darinya demi perkembangan da’wah kita dimasa yang akan datang.”
Melihat keheranan dari muka para anggota dewan tersebut, Kawâkibi menampilkan slide kedua, ^ sambil turun dari boncengan seorang lelaki, dia merapikan lilitan kerudung merah jambu keleher dan membiarkan lehernya tersingkap sedikit untuk memamerkan leher berjenjang sebagai sebentuk daya tarik. Sambil menggandeng lelaki yang ditemaninya, langkah ditata bak berjalan diatas catwalk, sesekali bibir merah basah tertawa renyah sambil menggelayut di lengan sang lelaki. Baju warna perak dengan bahan tipis, ukuran super ketat dipadu dengan celana jeans yang tak kalah ketatnya. Saking ketatnya, segala lekuk tubuhnya terlukis dengan indah dan menarik. Ketika memasuki mall, didalamnya lalu lalang orang-orang yang pakai kerudung serupa, baju kaos lengan panjang warna merah menyala melekat kebadan dan memperlihatkan jejak-jejak tali BH-nya (afwan). Dipadu dengan rok yang agak longgar, namun dengan belahan yang naudzubillah sampai diatas lutut, mungkin untuk memamerkan betisnya yang putih mulus, sesekali ketika membungkuk, baju yang dipakainya tersingkap memperlihatkan pinggulnya dengan celana dalam yang dipakainya (sekali lagi afwan). Bajunya kekecilan, atau sengaja memakai baju adiknya barangkali. Inilah gambaran para ikhwit ^ Ketika selesai membaca slide kedua, suasana menjadi riuh dan suara peserta sidang beristighfar memenuhi ruangan, “Apakah mereka tidak merasa risih mengaku muslimah dengan gaya yang seperti itu ?” seorang ikhwa tiba-tiba bertanya. “Saat itu, yang seperti inilah yang tenar, ini dikenal dengan istilah kerudung atau jilbab gaul, sementara itu oleh para pendahulu kita, mereka mengkategorikannya sebagai jilbib dan bukan jilbab.” Kawâkibi menjelaskan. “Makanya yang memakai jilbib tidak dikategorikan sebagai akhwat, melainkan ikhwit.” Lanjut Kawâkibi.
Kawâkibi mematikan laptopnya kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh yang hadir, “Sebenarnya da’wah yang kita lakukan sekarang tidaklah serumit yang dilakukan oleh para pendahulu kita, sekarang para ikhwit itu sudah tidak ada lagi. Tingkat kesadaran perempuan-perempuan Islam sekarang sudah jauh lebih tinggi dibanding dengan masa itu.” Kawâkibi menjelaskan. “Apa akhi Kawâkibi punya data tentang strategi da’wah yang mereka gunakan untuk mengantisipasi gejala ikhwit tadi ?” kembali seorang ikhwa bertanya. “Secara mendetail belum, aku belum membaca semua arsip yang ada, namun yang menarik adalah perkembangan organisasi kita ini ketika memasuki tahun 2004. Pada saat itu, para ikhwit banyak yang bergabung kedalam organisasi ini. Silahkan lihat slide berikut. Ini laporan akhir tahun 2003.”
Kembali Kawâkibi menghidupkan laptopnya dan menampilkan slide ketiga, ^ saat ini, perkembangan dakwah kita memasuki saat-saat kritis, memang sih jumlah anggota kita semakin bertambah, namun harap dicatat bahwa peningkatan signifikan ini diakibatkan oleh banyaknya ikhwit yang bergabung dengan kita. Penampilan mereka sudah tidak separah para ikhwit ditahun 2000. Baju mereka sudah tidak kekecilan, juga sudah tidak ada yang pakai celana ketat, namun mereka belumlah menjadi seperti yang kita harapkan bersama. Ini patut kita pikirkan bersama ^ “Aku memperlihatkan ketiga slide tadi sebagai bahan renungan bagi kita semua bahwa pernah ada suatu masa dalam perjalanan da’wah ini di mana da’wah dijalankan kepada mereka yang menganggap dirinya sudah menjalankan syariat dengan baik.” Kawâkibi menimpali.
Suasana hening sejenak, kemudian terdengar Kawâkibi kembali bersuara, “Ikhwa sekalian, semoga kita semua terlindung dari gejala kefuturan sehingga kembali kezaman dimana kebenaran coba dikaburkan dengan cara seperti yang terjadi dalam kasus jilbab menjadi jilbib. Sampai disini dulu pertemuan kita, setelah aku mempelajari arsip lainnya, akan aku sampaikan kepada ikhwa sekalian. Assalamu ‘alaikum.” Kawâkibi mengakhiri pertemuan. Para anggota dewan kondominium BG 75 meninggalkan ruangan dengan pikiran yang menerawang dan kembali pada masa ratusan tahun yang lalu dimana jilbib masih menggejala.
* * * * *
“Hai . . . hai . . . hai . . . Kawâkibi, bangun ada apa ? Kenapa kau menyebut-nyebut jilbib ? Siapa jilbib itu ? Nama akhwat ya ? Istighfar akhi.” Hassân mengguncang-guncang tubuh Kawâkibi, sampai Kawâkibi terbangun. “Astaghfirullah, aku bermimpi rupanya.” Suara Kawâkibi terdengar lemas. “Makanya kalau mau tidur, jangan lupa berdo’a akhi, jangan akhwat saja yang dipikirkan.” Hassân menasehati. Mendengar kata-kata Hassân, Kawâkibi tertawa dan berguman dalam hati, “Siapa yang mikirin akhwat ?”
“Cepat sholat subuh dan mandi, kamu tidak kuliah hari ini Kawâkibi ?” “Emangnya ini hari apa ?” Tanya Kawâkibi. “Hari Selasa.” “Tanggal ?” “9 Maret 2004.” “Naudzubillah, aku mid test hari ini, mana belum belajar lagi.” Kawâkibi melompat berdiri dari tempat tidur dan lari ke kamar mandi. Sementara itu Hassân tertawa terpingkal dan menimpali, “Makanya, perbaiki tuh pikiran. He . . . he . . . he . . . Kawâkibi . . . Kawâkibi . . .”

Selanjutnya!