Aku Terseret... Hanyut...
| Kenapa aku terlahir menjadi asing dan sendiri? Aku merasa terbuang ke sebuah belahan dunia dimana aku hidup sendiri, sementara manusia lain hidup pada belahan lainnya. Apakah Tuhan ingin menunjukkan padaku bahwa asing dan sendiri bukanlah sebuah posisi yang menarik dan mengasyikkan?
Ataukah Tuhan ingin memperlihatkan padaku bahwa hidup tanpa cermin hanyalah hidup yang penuh dengan keangkuhan dan kesia-siaan egoisme sempit?
Bahwa hidup yang tanpa sahabat dan kekasih adalah hidup asing dan sunyi-sepi. Kalau memang kenyataannya demikian, maka alangkah membosankannya menjadi Tuhan.
Ohhh.....
Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu murka pada manusia yang ingkar padanya. Tuhan tak ingin ditinggalkan cerminnya, bukankah manusia merupakan cerminan bagi wajah Tuhan yang sesunguhnya?
Bukankah tanpa kehadiran manusia maka Tuhan akan menjadi kesunyian dan tak punya mainan?
Ohhh.....
Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu berkasihsayang kepada manusia yang diciptakannya (tapi kenapa Tuhan seperti tidak menyayangiku, jangan-jangan aku bukan manusia) karena manusia adalah cemin bagi diriNya. Lalu, siapa yang menjadi manusiaku?
Tuhan memang bisa saja diacuhkan oleh manusianya, tapi dia punya murka untuk mengancam dan dia punya kasih untuk mencipta.
Kalau aku apa?
Ohhh . . . . .
Aku sadar sekarang, kenapa Tuhan begitu cinta pada nabi dan rasul yang diturunkannya, karena nabi dan rasul merupakan sahabat dan kekasih yang setia. Lalu, siapa yang menjadi sahabat dan kekasihku agar aku tidak kesepian. Bukankah ini sebentuk kecurangan Tuhan?
Dia memang bisa saja ditinggalkan oleh sahabat dan kekasihnya --cerminnya, tapi dia punya kekuatan memaksa agar sahabat dan kekasihnya menjadi setia selamanya.
Kalau aku apa?
Ngapai juga aku memikirkan Tuhan?
Bukankah dia adalah penyebab kesepian dan kehampaan duniaku saat ini? Aku tidak mau membincangnya lagi, apa gunanya aku bicara tentangnya? Dia juga tidak pernah mengizinkan aku untuk memiliki cermin.
Bahkan dia tidak memberiku kemampuan untuk mencipta dan mengkreasi cermin.
Aku akan membalasnya dengan menolak menjadi cermin baginya. Aku mau lihat sampai sekuat apa dia akan menggunakan murkanya untuk memaksaku kembali.
Tapi apa dia tega?
Aku rasa Tuhan tidak akan tega bertindak keras terhadapku, aku kan manusia –-manusia merupakan cermin-Nya. Bukankah cermin akan mudah retas bahkan retak kalau dikerasi.
* * *
Dug..!! Dug..!! Dug..!!
“Bangun kau hai orang asing!!!” Teriakan itu seakan memecah gendang telingaku dipagi yang masih rawan. Kurang ajar benar mereka itu, berani-beraninya menggedor dinding duniaku, pasti mereka penduduk dunia sebelah.
Tapi ada apa mereka membangunkanku?
Bukankah aku dan mereka tidak pernah berhubungan sebelumnya?
Atau jangan-jangan Tuhan mendengarkan kekecewaanku pada-Nya.
Dan Dia tersingung?
Tuhan bisa tersinggung?
Mungkin saja kan?
“Hai, apa lagi yang kau tunggu!!! Apa kau tunggu sampai kuguyur?” Teriakan itu terdengar lagi..., makin riuh..., seperti gemuruh gelombang badai.
Ada apasih?
Huh.... mengganggu mimpi pagiku saja, padahal mimpi di pagi hari seringkali makbul.
Hmmmm, tapi akan dikabulkan oleh siapa?
Bukankah kekuatan mengabulkan doa dan mimpi hanyalah milik Tuhan?
Dan aku sudah mencaci-maki Tuhan!
Apa mereka tidak mengerti, aku tidak butuh dibangunkan di pagi hari, yang aku butuhkan cermin untuk berkaca.
“Tunggu.... aku harus cuci muka dulu... kalian membawa cerminnya kan?” Teriakku tak kalah garangnya.
“Ha..... ha..... ha......... cermin apa? Dasar orang sinting, jangan cari-cari alasan, ayo bangun!!!”
“Ada apasih?” Aku beranjak menuju dinding pembatas yang memisahkan dunia kami.
Dari balik dinding kudengar bisik-bisik...
“Apa dia pakai baju?”
“Aku yakin tidak, dari mana dia membelinya?”
“Di dunianya kan tidak ada mall, hyper market atau trade center”
“Iya... ya... dia kan orang tinggal di dunia yang kuno”
“Ha... ha... ha...”, mereka tertawa hampir bersamaan, aku beranjak pelan mendekati dinding pembatas itu, aku merasa tersinggung mendengar celotehan mereka, tapi apa yang bisa kulakukan?
“Apa kau tak bosan di dalam situ sendiri? Ayo keluar saja ke sini”, teriak sebuah suara.
“Atau kau izinkan saja kami masuk ke situ”, teriak suara yang lain.
“Memang apa yang kau bawa untukku? Apa kau bawa cermin?” Tanyaku.
“Cermin? Kenapa kau selalu bertanya tentang cermin?”
“Ya aku butuh cermin sekarang?”
“Untuk apa?”
“Apa kalian tidak pernah bercermin?”
Mereka terdiam mendengarku, sesaat kembali mereka tertawa...
“Ha..... ha..... ha......... hari gini masih cari cermin? Ha..... ha..... ha.........” Mereka mentertawakanku.
“Kami bawa mode buatmu.” Teriaknya.
“Ya, kami juga bawa tontonan.” Lagi-lagi yang lain menimpali.
“Tapi kalian tidak bawa murka Tuhan kan?” Tanyaku sengit, tiba-tiba perasaan berdosa itu muncul selintas.
“Tuhan...????? Murka...???????”
“Ha... ha... ha... Tuhan malah menghadiahimu pakaian model terbaru, soft drink dan pizza hot.” Lanjutnya.
“Jangan mempermainkanku, kemarin aku telah melawannya karena dia tidak memberiku cermin!!” Sanggahku.
“Tuhan tidak memerintahkan kita bercermin, Dia menyuruh kita bersolek, ayo buka pintumu, kami akan membantumu bersolek.”
Aku terdiam beberapa saat di depan gerbang antar dunia yang memisahkan bagian bumi yang kami huni. Aku mencoba mengintip lewat celah dinding pembatas, mataku silau...
Dunia sebelah ternyata begitu menyilaukan, penuh dengan cahaya lampu warna-warni. Pakaian mereka juga bercahaya, muka mereka bercahaya. Beda denganku, pakaianku sekedar menutupi badan. Muka belum kucuci sehabis bangun tidur barusan.
“Kau tahu?” Suara itu terdengar lagi.
“Tuhan sudah tidak membutuhkan kita sebagai cermin-Nya!”
“Kenapa..........!? Tanyaku.
“Cahaya kami terlalu silau bagi mata Tuhan, Tuhan malah tidak melihat apa-apa ketika bercermin kepada kami.” Jawab mereka.
“Tak usah kau mencari cermin... Bersoleklah... Maka kau akan melihat dirimu dalam penghargaan dan penghormatan orang lain.” Seru mereka.
“Ya, benar... Mereka akan menghargaimu dengan senantiasa menyodorkan produk baru mereka. Parfum Prancis, jam tangan Itali dan lain sebagainya...” Imbuhnya lagi.
“Tapi aku takut..... Aku tak mengenali diriku sekarang...”
“Tidak mengapa, dengan membuka gerbang duniamu, kami akan memberimu identitas dan harga diri baru... Kami akan memberimu prestise.”
“Apalagi yang kau butuhkan selain itu, kejelasan identitas? Kesenangan? Kenikmatan? Permainan? Ayo buka pintumu...”
Aduh apa yang harus aku lakukan? Memang aku merasa bodoh dan asing, bahkan aku tidak merasa mengenali diriku sendiri. Tapi aku juga tidak mengenali mereka, mereka semua memakai topeng cahaya.
Kalau aku membuka pintu bagi mereka, apa mereka tidak akan memakaikan topeng cahaya itu kewajahku? Lalu siapa yang akan mengenaliku? Apakah aku masih bisa mengenali diriku kalau aku menemukan cerminku kelak?
Dug..!! Dug..!! Dug..!!
Kembali mereka menggedor-gedor gerbang duniaku. Gerbang belum kubuka, mereka malah bertanya.....
“Apa kau tidak takut...”
“Takut? Ya, aku takut pada murka Tuhan sekarang, meskipun aku pernah melawan dan mencacinya, tapi aku rasa dia masih punya murka.” Jawabku sekenanya.
“Kalau kau tidak memuka gerbangmu, kau akan dituduh membangun dunia kegelapan dan kami punya alasan untuk menyerbu dan merampas duniamu.”
“Apa kalian tidak takut Tuhan?” Balik aku yang bertanya.
“Tuhan adalah sahabat kami, kami telah mendudukkannya di posisi yang layak.”
“Tuhan malah mungkin minder karena kami sangat kreatif. Tuhan sadar bahwa suatu saat nanti kami akan lebih kreatif darinya...“
“Betulllll... Tuhan harus tahu diri...”
“Ha... Ha... Ha...”
Gedoran di gerbang duniaku makin kuat. Aku terdiam, bersandar di gerbang, lututku gemetar...
Dalam hatiku berguman,
Sekarang aku sadar, aku benar-benar cermin bagi Tuhan... Apa yang aku alami sekarang adalah nasib yang dialami oleh Tuhan karena perlakuan dari dunia sebelah.
Tiba-tiba sebuah suara menggema di rongga dadaku, seakan memenuhi seluruh angkasa belahan duniaku.
“Kau mulai bisa memahami, kenapa kau merasa asing dan bodoh hai hamba-Ku?”
“Itu adalah suasana hati-Ku, dan kau adalah cermin bagi-Ku...” Ungkap suara asing itu.
“Kamu siapa....?” Aku makin merasa takut, sementara itu gedoran di gerbangku masih saja terdengan, bahkan makin kuat. Tanyaku tak dijawab-Nya...
“Janganlah berkecil hati karena kau merasa Aku biarkan sendiri dan asing, itu Ku-lakukan karena Aku memilihmu hanya untuk-Ku.” Aku mulai sadar siapa yang kutemani bicara, Tuhan!
“Apa aku pantas untuk itu Tuhan?” Aku bertanya lagi, Dia kembali tak menjawab tanyaku, Dia terus saja berceloteh dengan suara yang serak.......
“Tapi ternyata mereka menemukanmu juga, mereka tidak membolehkan Aku memiliki cermin........ Mereka telah memecahkan cermin-Ku, dengan alasan mode dan memperelok tampilan cermin-Ku, mereka memolesnya dengan berbagai macam produk yang menimbulkan bayangan kamuflatif sehinga Aku kesulitan untuk mengenai diri-Ku juga.” Terdengar suara itu makin berat bertutur...
“Aku tidak butuh cermin yang bersolek kepalsuan, Aku hanya butuh cermin yang alami, Aku butuh hati yang senantiasa mengingat-Ku meskipun ingatan itu sebentuk afirmasi dan negasi atas keberadaan-Ku sebagaimana yang kau lakukan selama ini.
Aku mulai tidak peduli dengan gedoran dan teriakan mereka, aku bertanya pada-Nya,
“Apa kau telah menyerah pada mereka Tuhan?
“Tidak...!!! Aku membiarkan mereka menikmati gemerlap pada mode sampai cahaya keberhasilan yang mereka capai membuat mereka silau dan tak lagi menemukan jalan kembali.”
“Lalu?” Tanyaku singkat.
“Saat itulah Aku akan menjadi cermin yang memantulkan kesialuan itu kembali ke mereka. Saat itulah mereka akan buta dan tuli, hati mereka mengeras dan membatu, dan mereka akan saling membinasakan satu sama lain.” Tuhan menjawab dengan lugas.
“Aku takut dengan keadaan itu Tuhan”
“Tak usah takut, Aku Maha Kuat untuk menjaga cermin-Ku, bukankah kau adalah cermin-Ku?”
“Jadi, apa yang harus Aku lakukan?”
“Buka saja gerbang itu, Aku akan menjagamu...”
“Tunggu!!! Aku akan membuka gerbang ini...” Seruku kearah balik gerbang.
“Kenapa begitu lama?” Tanya itu tak kujawab, sudah tak ada gunanya.
Perlahan gerbang itu aku buka, cahaya menyilaukan berpendar.... Tanpa aku sadari muncul cahaya lain yang lebih terang dari ufuk timur duniaku. Cahaya yang lebih terang namun jernih..., tidak menyilaukan.
Aku terseret..., hanyut..., larut dalam cahaya dari timur itu...
Aku menjelma cahaya......
Yogyakarta, 02 Maret 2006
Selanjutnya! |
